
TANGERANG SELATAN — Udara Ahad pagi di kawasan Pamulang Permai 1 terasa sejuk berbalut ketenangan fajar, 18 Oktober 2026. Di dalam Masjid An-Nur AX-BX, jemaah salat Subuh tampak bergeming di atas saf-saf mereka. Alih-alih bergegas melipat sajadah dan pulang, para jemaah memilih bertahan, duduk bersila membentuk barisan taklim yang khusyuk. Jarum jam menunjukkan pukul 04.45 WIB ketika suara pembawa acara membuka agenda rutin Kajian Ahad Pagi Pekan Ketiga.
Pagi itu, mimbar utama diisi oleh narasumber kenamaan, Ustaz Dr. KH. Nurul Irfan, M.Ag. Calon Guru besar sekaligus pakar fikih Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta tersebut hadir membawakan topik yang diakui sederhana namun kerap luput dari perhatian umat: fikih bersuci (thaharah) dan adab buang hajat dalam kehidupan modern.
Dengan gaya tutur yang santun, runtut, namun kaya akan kelakar cerdas khas pesantren, Ustaz Nurul Irfan membedah bagaimana Islam—bahkan hingga ke sudut tersembunyi seperti kamar mandi—memberikan bimbingan moral dan medis yang sangat presisi bagi umatnya.
Ustaz Nurul Irfan mengawali kajian dengan menyitir kaidah klasik dalam kitab-kitab turats: wa yukrahu an yabula fi masaqiti ats-tsimar—makruh hukumnya kencing di bawah pohon-pohon yang sedang berbuah.
“Dulu, ulama melarang kita buang air di bawah pohon berbuah karena khawatir jika buahnya jatuh, buah itu terkena najis dan kotoran manusia. Tapi di zaman modern sekarang, pohon di kota sudah jarang,” ujar Ustaz Irfan yang disambut anggukan jemaah.
Secara kontekstual, beliau menarik analogi fikih tersebut ke ruang publik kekinian. Bila dahulu titik larangan berada di bawah pepohonan, kini larangan serupa bertransformasi ke fasilitas umum seperti halte bus atau lorong stasiun. Beliau mencontohkan aroma tak sedap yang terkadang tercium di jalur pedestrian dari tempat parkir menuju halte Transjakarta atau stasiun MRT.
“Kalau sekarang jarang pohon, makruh juga kencing di halte atau dekat tiang LRT. Orang lewat pasti menggerutu dan menyumpah-nyumpah. Orang yang buang air sembarangan itu akhirnya panen doa buruk dan serapah dari setiap orang yang melintas,” tuturnya jenaka, memancing senyum para jemaah. Beliau menegaskan bahwa ajaran Islam sedari awal telah merancang adab publik agar setiap muslim tidak mendatangkan mudarat maupun laknat sosial akibat perilaku yang jorok.
Sorotan kajian berlanjut pada etika ketika seseorang menuntaskan hajatnya di kamar mandi. Ustaz Nurul Irfan menggarisbawahi hukum makruh berbicara atau mengobrol saat buang air (wa yukrahu an yatakallama).
Beliau membacakan riwayat hadis dari Abu Sa’id al-Khudri RA, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT sangat murka terhadap dua orang yang buang air besar bersama-sama seraya membuka aurat dan saling berbicara.
“Dulu orang buang air sambil mengobrol berhadapan. Sekarang bentuknya beda: buang air sambil teleponan atau main gawai,” terang beliau. Ustaz Irfan mengingatkan agar seseorang tidak menerima panggilan telepon atau berbalas pesan audio di dalam jamban. “Lagi hajat, jangan teleponan. Nanti lupa kalau sudah tuntas, atau auratnya kemana-mana. Allah murka pada perilaku yang demikian.”
Terkait interaksi lisan, sang kiai merinci lima keadaan di mana seseorang dimakruhkan mengucap dan membalas salam:
“Kalau ada orang lewat depan pintu toilet lalu mengucap salam, tidak perlu dijawab. Cuekin saja. Orang tahu kita lagi di dalam. Begitu juga saat bersin di toilet, tahan hamdalah di dalam hati, jangan dikeraskan dengan lisan,” tegasnya. Beliau menambahkan, adab ini juga berlaku bagi jemaah atau mahasiswa yang terlambat masuk majelis; cukup langsung duduk tenang tanpa perlu memotong pembicaraan dengan salam yang mengalihkan konsentrasi forum.
Memasuki pembahasan tentang kesucian lahiriah dan batiniah, Ustaz Nurul Irfan mengutip pandangan Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab. Disampaikan bahwa Nabi SAW mencontohkan keengganan berzikir melafalkan nama Allah dalam keadaan belum bersuci atau berwudu.
Pesan ini dirangkai apik oleh narasumber dengan wejangan spiritual mengenai persiapan kematian. Ustaz Irfan membagikan pengalaman pribadinya saat dibaiat tarekat oleh para masyaikh sepuh, yang menekankan pentingnya menjaga wudu dan memperbanyak zikir tahlil (Laa ilaha illallah), shalawat, dan istigfar secara istikamah.
“Terutama bagi bapak-bapak yang usianya sudah di atas 50 tahun, apalagi sudah mendekati sewidak (60 tahun dalam bahasa Jawa),” kelakar beliau. “Sewidak itu filosofinya sejatine wis wayahe tindak—artinya sejatinya sudah tiba saatnya bersiap berangkat menuju alam baka. Uban di kepala itu ibarat SMS peringatan dari Gusti Allah.”
Beliau mengingatkan agar sisa usia diisi dengan membiasakan lisan mengucap kalimat tayibah dan mengamalkan sunah harian, sehingga saat sakaratul maut tiba, ruh tidak tersesat melainkan terbiasa melantunkan asma Allah dalam keadaan suci.
Dimensi kajian kian memukau ketika Ustaz Nurul Irfan memaparkan keterkaitan sunah Nabi SAW dengan kesehatan medis organ pencernaan dan urologi. Merujuk pada hadis riwayat Suraqah bin Malik RA, umat Islam dianjurkan untuk bertumpu pada kaki kiri (al-ittika’ ‘ala rijlihi al-yusra) ketika buang hajat.
“Secara anatomis, mencondongkan beban tubuh ke sebelah kiri saat jongkok membuat saluran pembuangan (al-qadha’ al-hajah) menjadi lebih lurus dan lancar,” jelas pengajar pascasarjana tersebut.
Sebaliknya, beliau melarang keras kebiasaan berlama-lama jongkok atau duduk di toilet, sebagaimana nasihat Luqman al-Hakim yang terekam dalam literatur klasik. Jongkok berlarut-larut tanpa keperluan dapat memicu komplikasi pada pembuluh darah rektum hingga menyebabkan wasir (ambeyen) serta gangguan organ dalam.
“Jangan berlama-lama di kloset. Banyak orang kena wasir gara-gara nongkrong terlalu lama sambil melamun atau main HP. Profesi yang rawan wasir itu biasanya yang banyak duduk: dosen, penjahit, atau sopir antarkota,” canda beliau yang disambut tawa berderai jemaah.
Beliau juga membagikan ikhtiar spiritual pencegah wasir melalui amalan salat sunah Qabliyah Subuh, yakni dengan rutin membaca Surat Al-Insyirah (Alam Nasyrah) pada rakaat pertama dan Surat Al-Fil (Alam Tara) pada rakaat kedua, sebagaimana fadilah yang disebutkan dalam sejumlah kitab fadhail amal.
Tak lupa, di ujung uraian adab istinjak, beliau mengajarkan teknik tanahnuh (berdehem ringan) dan mengurut lembut pangkal saluran kencing bagi pria agar air kemih tuntas keluar tanpa menyisakan tetesan najis yang dapat membatalkan salat. Beliau pun mewanti-wanti agar jemaah tidak berwudu atau bercebok menggunakan air yang telah terciprat najis guna menghindari waswas dalam ibadah.
Menjelang pukul 06.00 WIB, suasana kajian beralih ke sesi tanya jawab interaktif. Pertanyaan kritis datang dari salah seorang jemaah mengenai status makmum yang gerakannya tidak sinkron atau tertinggal cukup jauh dari gerakan imam—apakah salatnya batal atau terhitung mufaraqah (memisahkan diri).
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Nurul Irfan menerangkan kaidah fikih salat berjemaah secara lugas:
Kajian fajar yang padat nutrisi ilmu tersebut akhirnya ditutup tepat pukul 05.35 WIB dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustaz Nurul Irfan. Rangkaian munajat dipanjatkan memohon ampunan dosa, keselamatan iman, ketenteraman keluarga, serta akhir hidup yang husnulkhatimah.
Para jemaah pun meninggalkan serambi Masjid An-Nur Pamulang Permai 1 dengan wajah cerah, membawa bekal pemahaman baru: bahwa kesalehan seorang muslim tak hanya diuji di atas hamparan sajadah, melainkan juga terpancar dari adab dan kebersihan diri di bilik kamar mandi.