Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Ming, 27 September 2026

Menelisik Karakter dan Sejarah Kelam Sebagian Bani Israil: Catatan Penting dari Kajian Tafsir Tematik Prof. Dr. Asep Usman Ismail di Masjid An-Nur

Oleh : Masjid Annur Uncategorized
Menelisik Karakter dan Sejarah Kelam Sebagian Bani Israil: Catatan Penting dari Kajian Tafsir Tematik Prof. Dr. Asep Usman Ismail di Masjid An-Nur

TANGERANG SELATAN — Memasuki minggu keempat di bulan September, jemaah Masjid An-Nur yang berlokasi di Komplek AX-BX RW 12, Pamulang Permai-1, Kota Tangerang Selatan, berbondong-bondong menghadiri agenda rutin keagamaan pada Ahad pagi, 27 September 2026. Acara bertajuk “Kajian Keislaman: Tafsir Al-Qur’an Tematik” ini terbuka untuk umum dan dijadwalkan berlangsung selepas salat Subuh, tepatnya pukul 05.00 hingga 06.15 WIB. Pada kesempatan kali ini, kajian diisi oleh pakar tafsir terkemuka, Prof. Dr. KH. Asep Usman Ismail, MA, yang mengupas tuntas sebuah tema historis sekaligus teologis yang relevan sepanjang zaman, yakni sifat-sifat buruk yang melekat pada sebagian kaum Bani Israil atau Yahudi sebagaimana yang direkam di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Di hadapan para jemaah yang hadir, Prof. Asep Usman Ismail membuka penjelasannya dengan sebuah penegasan penting bahwa kritik Al-Qur’an ini ditujukan secara spesifik kepada sebagian Bani Israil, dan tidak digeneralisasi kepada seluruh umat atau keturunan Nabi Ya’qub. Pendekatan objektif ini penting agar umat Islam mendudukkan sejarah dan teks suci secara proporsional. Dalam pemaparannya yang mendalam, beliau menguraikan rekam jejak panjang Bani Israil yang dimulai sejak era Nabi Ibrahim pada kisaran tahun 2000 hingga 1500 Sebelum Masehi (SM) di tanah Kan’an atau Hebron.

Perjalanan sejarah bangsa ini diwarnai oleh dinamika migrasi yang besar. Prof. Asep menceritakan awal mula masuknya Bani Israil ke Mesir melalui kisah Nabi Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur, kemudian dijual dengan harga murah, hingga akhirnya diangkat menjadi pejabat penting di Mesir berkat ilmu dan kekuasaannya. Krisis pangan di Kan’an memicu migrasi besar-besaran Bani Israil ke Mesir, yang kemudian menjadikan negeri tersebut sebagai tanah air kedua bagi mereka. Namun, roda politik berputar pada tahun 1200 SM ketika Firaun menganggap populasi Bani Israil sebagai sebuah masalah, yang berujung pada penindasan dan perbudakan sistematis, termasuk pembunuhan bayi-bayi laki-laki.

Di tengah penderitaan tersebut, Allah mengutus Nabi Musa dengan membawa kitab Taurat dan dua misi utama: mengajarkan tauhid serta membebaskan Bani Israil dari belenggu Firaun. Ironisnya, di sinilah salah satu karakter buruk sebagian Bani Israil mulai terlihat jelas. Alih-alih beriman dan berjuang teguh bersama Musa, mereka enggan berjihad ketika diperintahkan memasuki tanah suci Palestina. Sejarah mencatat jawaban lancang mereka kepada utusan Allah tersebut, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja,” yang mengakibatkan mereka dihukum mengembara dalam kebingungan di bumi selama empat puluh tahun.

Lebih jauh, Prof. Asep menguraikan delapan sifat atau karakter busuk sebagian Yahudi yang secara gamblang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah. Sifat-sifat tersebut antara lain:

  • Menutup diri dari kebenaran: Mereka menolak untuk menerima dan membenarkan wahyu Al-Qur’an (Q.S. Al-Baqarah: 88).
  • Pribadi yang kontradiktif: Sebelum kedatangan nabi akhir zaman, mereka sangat menantikan dan mengharapkannya untuk memenangkan peperangan. Namun, setelah nabi tersebut (Muhammad SAW) datang, mereka justru mengingkarinya karena kenyataan bahwa sang nabi berasal dari bangsa Arab, bukan dari kalangan Bani Israil (Q.S. Al-Baqarah: 89).
  • Kedengkian yang mendarah daging: Mereka dengki atas karunia kenabian yang diberikan Allah kepada bangsa Arab (Q.S. Al-Baqarah: 90).
  • Hipokrit dalam beriman: Mereka mengaku beriman kepada kitab Taurat, tetapi secara terang-terangan mengingkari Al-Qur’an (Q.S. Al-Baqarah: 91).
  • Pembangkangan terhadap ajaran rasul: Mengaku sebagai pengikut setia Nabi Musa, namun mereka justru mengingkari ajarannya dengan menyembah patung anak sapi (Q.S. Al-Baqarah: 92).
  • Sikap mendurhakai secara sadar: Mengucapkan “kami mendengar” namun pada saat yang sama mereka menyatakan “kami mendurhakai” demi mengikuti hawa nafsu menyembah berhala (Q.S. Al-Baqarah: 93).
  • Sindrom bangsa pilihan (Chosen People): Merasa diperlakukan sangat istimewa oleh Tuhan dan mengklaim bahwa surga secara eksklusif hanya diciptakan untuk kelompok mereka saja (Q.S. Al-Baqarah: 94).
  • Kecintaan ekstrem pada duniawi: Bangsa yang sangat memuja kehidupan dunia, bahkan memiliki angan-angan agar bisa dihidupkan selama seribu tahun lagi (Q.S. Al-Baqarah: 96).

Selain dari Kitab Al-Baqarah, kajian ini juga menyoroti pengkhianatan politik yang mereka lakukan pada masa Rasulullah SAW, tepatnya menjelang Perang Ahzab. Kaum Yahudi dari Bani Nadhir, yang sebelumnya diusir dari Madinah karena berencana membunuh Nabi Muhammad SAW, pergi ke Makkah untuk melancarkan lobi politik kotor. Mereka menjilat kaum Quraisy dan mengatakan bahwa agama penyembah berhala Quraisy jauh lebih benar jalannya daripada agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Mereka bermanuver membentuk koalisi besar dengan menghasut Bani Gathfan, Bani Fuzarah, dan Bani Murrah demi meruntuhkan eksistensi kaum muslimin. Sikap menghalalkan segala cara demi membalas dendam inilah yang membuat mereka dikutuk dan dilaknat oleh Allah SWT.

Prof. Asep juga menyoroti perilaku kemunafikan mereka yang sangat berbahaya. Ketika berjumpa dengan orang-orang beriman, mereka akan bermanis muka dan mengatakan “Kami telah beriman,” namun ketika kembali berkumpul dengan sesamanya, mereka akan merencanakan tipu daya dan menyembunyikan kebenaran yang diturunkan Allah. Al-Qur’an juga mengecam keras tindakan mereka yang berani memanipulasi ayat suci; menulis kitab dengan tangan mereka sendiri dan mengatasnamakan Allah semata-mata untuk menjualnya dengan harga yang murah demi secuil kepentingan duniawi (Q.S. Al-Baqarah: 79). Di akhir kajiannya yang interaktif, Prof. Asep turut menjawab pertanyaan jemaah yang mencoba membandingkan pola kemunafikan dan klaim superioritas golongan ini dengan kelompok lain dalam sejarah Islam, menegaskan bahwa sikap-sikap merusak tersebut harus dihindari oleh umat Islam.

Kajian keislaman ini dipandu oleh pihak panitia dengan kontak informasi Elwin Z Arifin, yang rutin menyelenggarakan kajian setiap Ahad ba’da Subuh di minggu keempat. Melalui pembedahan sejarah dan penafsiran ayat-ayat suci ini, umat Islam diharapkan dapat memetik hikmah yang mendalam. Sejarah kelam sebagian Bani Israil yang terekam abadi dalam Al-Qur’an bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan peringatan keras bagi umat manusia agar tidak terjerumus pada kesombongan, pengkhianatan, serta kemunafikan yang sama dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat saat ini.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.