
Pernikahan bukan sekadar ikatan hukum di hadapan penghulu atau kebersamaan menikmati masa muda. Bagi orang-orang yang beriman, pernikahan adalah perjalanan spiritual panjang—sebuah ikrar suci untuk saling menggenggam tangan, menapaki suka duka, hingga maut memisahkan raga di dunia dan Allah menyatukan kembali jiwa mereka di surga.
Di depan ruang pemulasaraan jenazah sebuah rumah sakit, keheningan pecah ketika seorang ustadz melangkah masuk. Beliau bertanya dengan lembut kepada seorang wanita yang tengah tertunduk layu: apakah ia bersedia ikut memandikan jenazah suaminya? Dengan langkah gemetar namun penuh keteguhan, sang istri bangkit, didampingi beberapa kerabat untuk menunaikan baktinya yang terakhir.
Air matanya sempat tumpah tak terbendung. Di hadapan tubuh kaku belahan jiwanya, ia berbisik lirih:
“Inilah janji setia kami… Jika Papa pergi lebih dulu, Mama yang akan memandikan jenazah Papa. Dan andai Mama yang berpulang lebih awal, Papa yang akan memandikan jenazah Mama…”
Begitu tangisnya mereda, ketenangan seorang mukminah merasuk ke dalam dadanya. Dengan jemari yang lembut dan penuh hormat, ia mulai mengalirkan air dan membasuh setiap bagian tubuh suaminya, diiringi untaian doa dan kesaksian yang menggetarkan siapa pun yang menyaksikannya:
Usai memandikan dan merapikan kain kafan, sang istri mencium kening suaminya dengan penuh ketenangan. Tiada lagi ratapan, yang tersisa hanyalah keridhaan tulus dari lubuk hati terdalam:
“Terima kasih suamiku… Aku teramat bahagia sepanjang menjadi istrimu. Terima kasih telah menitipkan permata hati kita. Aku, istrimu, benar-benar ridha atas kepergianmu karena cinta Allah yang jauh lebih besar kepadamu…”
Mutiara Hikmah untuk Kita Semua
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati rumah tangga kita, menganugerahkan pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati (qurrata a’yun), serta mengumpulkan kita kembali bersama keluarga tercinta di jannah-Nya kelak. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Kisah Hikmah: Disadur dari untaian refleksi Eyang Ady Sumanto yg disampaikan kepada Tim LKBHS