Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Sel, 13 Oktober 2026

Mengantar Cinta Menuju Pintu Jannah

Mengantar Cinta Menuju Pintu Jannah

​Pernikahan bukan sekadar ikatan hukum di hadapan penghulu atau kebersamaan menikmati masa muda. Bagi orang-orang yang beriman, pernikahan adalah perjalanan spiritual panjang—sebuah ikrar suci untuk saling menggenggam tangan, menapaki suka duka, hingga maut memisahkan raga di dunia dan Allah menyatukan kembali jiwa mereka di surga.

​Di depan ruang pemulasaraan jenazah sebuah rumah sakit, keheningan pecah ketika seorang ustadz melangkah masuk. Beliau bertanya dengan lembut kepada seorang wanita yang tengah tertunduk layu: apakah ia bersedia ikut memandikan jenazah suaminya? Dengan langkah gemetar namun penuh keteguhan, sang istri bangkit, didampingi beberapa kerabat untuk menunaikan baktinya yang terakhir.

​Air matanya sempat tumpah tak terbendung. Di hadapan tubuh kaku belahan jiwanya, ia berbisik lirih:

​“Inilah janji setia kami… Jika Papa pergi lebih dulu, Mama yang akan memandikan jenazah Papa. Dan andai Mama yang berpulang lebih awal, Papa yang akan memandikan jenazah Mama…”

​Begitu tangisnya mereda, ketenangan seorang mukminah merasuk ke dalam dadanya. Dengan jemari yang lembut dan penuh hormat, ia mulai mengalirkan air dan membasuh setiap bagian tubuh suaminya, diiringi untaian doa dan kesaksian yang menggetarkan siapa pun yang menyaksikannya:

  • ​Saat Membasuh Wajah: “Inilah wajah suami yang teramat kusayangi, tetapi Allah jauh lebih menyayangimu… Wahai suamiku, semoga Allah mengampuni seluruh khilafmu dan mempertemukan kita kembali di jannah nanti…”
  • ​Saat Membasuh Kedua Tangan: “Tangan inilah yang selama bertahun-tahun membanting tulang mencari rezeki yang halal untuk kami, menyuapkan makanan yang berkah ke mulut anak-anak kita… Semoga Allah melipatgandakan pahala dari setiap lelah tanganmu, wahai suamiku…”
  • ​Saat Membasuh Tubuh: “Tubuh inilah yang selalu memberi pelukan hangat dan rasa aman bagi aku dan anak-anak saat kami gundah… Semoga Allah melimpahkan kasih sayang-Nya yang berlipat ganda untukmu…”
  • ​Saat Membasuh Kaki: “Dengan langkah kaki inilah engkau melangkah keluar rumah dari fajar hingga senja demi mencari nafkah bagi keluarga. Terima kasih, suamiku… Semoga Allah mengganti setiap derap langkah letihmu dengan kenikmatan abadi di akhirat…”

​Usai memandikan dan merapikan kain kafan, sang istri mencium kening suaminya dengan penuh ketenangan. Tiada lagi ratapan, yang tersisa hanyalah keridhaan tulus dari lubuk hati terdalam:

​“Terima kasih suamiku… Aku teramat bahagia sepanjang menjadi istrimu. Terima kasih telah menitipkan permata hati kita. Aku, istrimu, benar-benar ridha atas kepergianmu karena cinta Allah yang jauh lebih besar kepadamu…”

​Mutiara Hikmah untuk Kita Semua

  1. ​Sunnah dan Kemuliaan Memandikan Pasangan Dalam syariat Islam, suami atau istri berhak memandikan jenazah pasangannya. Sebagaimana wasiat sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang dimandikan oleh istrinya, Asma’ binti ‘Umais. Ini adalah wujud penghormatan dan penjagaan aurat tertinggi hingga hembusan napas terakhir.
  2. ​Keringat Mencari Nafkah Halal adalah Syahid dan Pahala Setiap butir keringat seorang suami yang keluar mencari nafkah yang halal demi keluarganya bernilai sedekah dan jihad di jalan Allah. Kesaksian seorang istri atas rezeki halal suaminya menjadi saksi pembela di hadapan Mahkamah Ilahi.
  3. ​Keridhaan Istri Membuka Pintu Surga Ketika seorang istri ikhlas dan ridha atas suaminya, serta suami pun ridha atas istrinya, Allah menurunkan rahmat-Nya yang melimpah.
  4. ​Cinta yang Tak Pernah Berakhir Kematian bukanlah titik akhir bagi pasangan yang saling mencintai karena Allah (mahabbah fillah). Kematian hanyalah jeda istirahat singkat sebelum mereka dipertemukan kembali dalam keabadian surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai kenikmatan.

​Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati rumah tangga kita, menganugerahkan pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati (qurrata a’yun), serta mengumpulkan kita kembali bersama keluarga tercinta di jannah-Nya kelak. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kisah Hikmah: Disadur dari untaian refleksi Eyang Ady Sumanto yg disampaikan kepada Tim LKBHS

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.