
TANGERANG SELATAN — Suasana pagi selepas pelaksanaan ibadah salat Subuh, Ahad 25 Oktober 2026, Masjid Jami An-Nur Pamulang Permai diselimuti oleh keheningan yang khusyuk dan penuh makna. Di hadapan para jemaah yang masih duduk bersimpuh, sebuah peristiwa bersejarah dan mengharukan tentang perjuangan keyakinan seorang remaja perempuan bersiap untuk digelar. Acara ini dipandu langsung oleh Ustadz Cristian Tarigan, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) sekaligus narator yang menjelaskan lika-liku perjalanan sang gadis belia menuju terangnya hidayah Islam.
Sebagai pembuka, Ustadz Cristian Tarigan dengan penuh hormat menyapa Ketua Takmir Masjid Jami An-Nur Pamulang Permai beserta seluruh jajaran pengurus, tokoh agama, dan jemaah salat Subuh yang dirahmati Allah. Dengan suara yang tenang namun menggugah, beliau mulai menceritakan latar belakang sosok yang pagi itu menjadi pusat perhatian. Sosok tersebut adalah seorang remaja perempuan yang baru menginjak usia 14 tahun, bernama Merry Natallya Giawa. Berdasarkan dokumen resmi Sertifikat Syahadat yang diterbitkan oleh lembaga Mercusuar Hidayah Indonesia, Merry tercatat lahir di Bakal pada tanggal 25 Desember 2012. Remaja yang sebelumnya memeluk agama Kristen (Protestan) ini memiliki alamat asal di Muara Petai Pekanbaru, dan kini berdomisili di Jalan Pertanian Depok.
Ketertarikan pada Islam dan Kisah Sang Kakak
Dalam reportasenya di hadapan jemaah, Ustadz Cristian Tarigan menjelaskan bahwa ketertarikan Merry terhadap agama Islam tidak muncul secara tiba-tiba. Benih-benih hidayah itu mulai bersemi ketika ia melihat jejak sang kakak kandung, Windi Giawa, yang telah lebih dulu mengambil keputusan besar untuk memeluk agama Islam. Keputusan sang kakak memantik rasa penasaran yang mendalam di dalam benak Merry.
Tidak sekadar ikut-ikutan, di usianya yang masih sangat muda, Merry menunjukkan kedewasaan intelektual dengan mulai mencari tahu sendiri tentang kebenaran Islam. Ustadz Cristian menuturkan bahwa Merry secara mandiri mulai membaca berbagai buku-buku keislaman. Salah satu bacaan yang paling menyentuh relung hatinya adalah kisah-kisah mengenai sejarah kehidupan serta keteladanan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari lembar demi lembar buku yang ia baca, rasa cintanya terhadap Islam perlahan tumbuh subur, menguatkan tekadnya untuk turut mengucapkan dua kalimat syahadat di usianya yang baru 14 tahun.
Penolakan Keluarga dan Proses Mediasi yang Alot
Namun, jalan menuju hidayah jarang sekali dilalui tanpa ujian. Keputusan Merry untuk berpindah keyakinan mendapat penolakan keras dari kedua orang tuanya. Mengingat kakaknya telah lebih dulu masuk Islam, pihak keluarga merasa keberatan jika Merry mengambil jalan yang sama. Menghadapi situasi yang pelik ini, Ustadz Cristian Tarigan menjelaskan bahwa keselamatan dan hak beragama sang anak harus didampingi secara komprehensif.
Demi memfasilitasi niat suci Merry dan menjaga agar tidak terjadi konflik yang merugikan, perwakilan dari Divisi Nasional Anti Pemurtadan bersama Mercusuar Hidayah Indonesia (MHI) mengambil langkah proaktif. Tim perwakilan tersebut rela terbang jauh dari Jakarta menuju Pekanbaru, Riau, pada hari Senin, 19 Oktober, khusus untuk melakukan mediasi langsung dengan keluarga Merry.
Proses mediasi ini digambarkan sebagai sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Tim bahkan sempat menemui jalan buntu (deadlock) saat berdialog dengan pihak keluarga. Namun, berkat pertolongan Allah, doa dari kaum muslimin, serta pendekatan yang persuasif, pintu hati kedua orang tua Merry akhirnya terbuka. Mereka akhirnya memberikan restu dan menandatangani surat persetujuan yang mengizinkan putri mereka untuk memeluk Islam. “Alhamdulillah, orang tuanya sudah tanda tangan surat izin Merry masuk Islam,” tegas Ustadz Cristian Tarigan di hadapan jemaah yang menyimak dengan saksama.
Hijrah ke Ibu Kota dan Prosesi Syahadat
Setelah mendapatkan restu resmi, langkah selanjutnya adalah memastikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan iman dan pendidikan Merry. Demi keamanan serta pembinaan yang terarah dalam pelukan agama barunya, Merry pun dibawa hijrah ke Jakarta.
Puncak dari perjuangan panjang ini terjadi pada hari Jumat, 23 Oktober 2026, berlokasi di Tangerang Selatan. Pada momentum suci tersebut, Merry Natallya Giawa secara resmi mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Prosesi pengislaman ini tidak dipimpin langsung oleh Ketua Umum MHI, Kyai Haji Arif Asibal, lantaran beliau berhalangan hadir. Sebagai gantinya, ikrar syahadat dituntun dengan penuh kehangatan oleh Bang Mikha, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Mercusuar Hidayah Indonesia.
Ikrar suci tersebut diucapkan Merry dengan penuh kesadaran, keyakinan, dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Momen bersejarah ini juga disaksikan dan disahkan oleh dua orang saksi, yakni Alif Iskandar Silaban sebagai Saksi I dan Ah. Azharuddin Lathif, sebagai Saksi II. Nama-nama dan tanda tangan mereka tertera dengan jelas di atas Sertifikat Syahadat bernomor registrasi dari Mercusuar Hidayah Indonesia, sebuah dokumen yang menjadi bukti autentik bahwa Merry kini telah resmi menjadi seorang muslimah.
Panggilan Jiwa: Menjadi Keluarga Baru bagi Sang Mualaf
Di penghujung narasi, suasana di dalam masjid terasa semakin haru. Ustadz Cristian Tarigan menyampaikan sebuah pesan kemanusiaan yang sangat mendalam kepada seluruh jemaah yang hadir. Ia mengingatkan bahwa dengan keputusannya memeluk Islam, Merry secara tidak langsung harus terpisah dari keluarga asalnya demi mempertahankan akidahnya.
“Seorang anak seperti ini, yang begitu mencintai Islam, sampai harus rela terusir dari keluarganya yang beragama Kristen, maka jangan sampai ia merasa sendirian setelah menjadi seorang muslim,” ujar Ustadz Cristian dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan. Ia menyerukan kepada seluruh jemaah masjid untuk merangkul Merry bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai darah daging sendiri. “Kitalah yang akan menjadi ayahnya, kitalah yang akan menjadi kakeknya, kitalah yang akan menjadi abangnya, dan kitalah yang akan menjadi saudaranya, kitalah yang akan menjadi ibunya, kitalah yang menjadi neneknya,” pesannya dengan lugas.
Mengingat usianya yang masih sangat muda, perjalanan hidup Merry masih sangat panjang. Ia membutuhkan kelanjutan pendidikan, biaya hidup, serta bimbingan agama yang berkelanjutan. Ustadz Cristian Tarigan mengumumkan rencana bahwa setelah prosesi syahadat ini, Merry akan dimasukkan ke sekolah menengah pertama (SMP) berbasis pesantren terbaik agar potensi dan akidahnya dapat terbina dengan maksimal.
Sebagai bentuk aksi nyata, Ustadz Cristian selaku MC membuka kesempatan emas bagi para jemaah untuk turut andil dalam perjuangan ini. Beliau mengajak kaum muslimin untuk menitipkan zakat, infak, maupun sedekah mereka demi kelangsungan pendidikan dan kehidupan Merry. Bahkan, beliau juga mempersilakan jemaah yang ingin bersilaturahmi langsung, memberikan dukungan moril, maupun mengundang Merry secara pribadi untuk menguatkan tali persaudaraan keislaman.
Acara pagi itu ditutup dengan doa bersama dan gema selawat yang dipimpin oleh Bang Mikha. Suara takbir bergema di seantero ruangan masjid, menjadi saksi bahwa di usia yang baru belasan tahun, seorang Merry Natallya Giawa telah mengajarkan arti sejati dari sebuah keberanian, pencarian kebenaran, dan manisnya sebuah hidayah. Kini, ia tidak lagi berjalan sendirian, karena ribuan doa dan tangan-tangan persaudaraan umat Islam telah siap merangkulnya dalam cahaya iman.