
PAMULANG — 16 September 2026, Semangat pelatihan bertajuk “Merajut Simpul 1.008 Rumah Ibadah” yang diinisiasi oleh Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) tidak menguap begitu acara usai. Di kawasan Pamulang Permai 1, dua masjid tetangga langsung menerjemahkan visi tersebut menjadi langkah nyata di akar rumput.
Usai menunaikan salat Maghrib berjamaah, serambi dan ruang tamu Masjid An-Nur Pamulang Permai 1 (Blok AX–BX) diselimuti keakraban. Pengurus Masjid Al-Hidayah datang bersilaturahim untuk menindaklanjuti pembelajaran bersama dari MRBJ, mengisi jeda malam hingga kumandang azan Isya dengan diskusi yang bergizi dan penuh canda tawa.
Rombongan tamu dari DKM Al-Hidayah dipimpin langsung oleh sang Ketua DKM, Bpk. H. M. Natsir, didampingi oleh Bpk. H. Djoko Lagijono (Kepala Bidang Layanan Bantuan Sosial, Bencana, & Kematian) serta Bpk. Wisono (Ketua Seksi Bantuan Sosial Pendidikan dan Bencana). Kehadiran mereka disambut hangat oleh tuan rumah, Ustad Ah. Azharuddin Lathif (Ketua Yayasan An-Nur Pamulang Permai) bersama Bpk. Ismet Ismail (Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Umat Masjid An-Nur).
Ditemani hidangan ketan hangat dan penganan tradisional, perbincangan mengalir renyah. Obrolan dibuka dengan kelakar khas bapak-bapak pejuang masjid mengenai dinamika mengelola rumah ibadah di lingkungan perumahan yang mayoritas diisi para pensiunan—sebutan jenaka yang mereka lontarkan sebagai “komunitas Pang”.
Bagi H. M. Natsir, memimpin kepengurusan di lingkungan yang sarat dengan akademisi, tokoh senior, hingga ragam latar belakang masyarakat membutuhkan pendekatan hati yang mendalam, yakni seni nguwongke (memanusiakan dan menghargai orang lain). Ia membagikan kisahnya saat awal terpilih: alih-alih langsung merilis formatur pengurus, ia memilih berkeliling sowan dari rumah ke rumah menemui para sesepuh, asatidz, dan tokoh masyarakat selama berjam-jam.
“Begitu diamanahi, saya datang sowan ke para ustadz dan tokoh. Ndekek endas (merendahkan hati), mohon doa dan masukan. Kalau dari awal kita ajak bicara dan kita ‘uwongke’, jamaah akan tulus mendukung lahir batin,” tutur H. M. Natsir.
Kekompakan itu mewujud nyata pada layanan sosial di Al-Hidayah. Bidang Layanan Bantuan Kematian (LBK) mereka menjadi salah satu percontohan yang sangat solid. Setiap jadwal piket mingguan, meja piket tidak pernah sepi penganan yang dibawa sukarela oleh jamaah secara bergantian tanpa menyentuh kas masjid. Ketika ada warga yang tertimpa musibah duka, puluhan relawan berseragam sigap turun memberikan pertolongan tuntas hingga pemakaman.
Pertemuan antara waktu Maghrib dan Isya ini juga menjadi ruang bedah dapur tata kelola kelembagaan. Kedua pengurus saling berbagi pandangan mengenai relasi ideal antara organ Yayasan dan Takmir/DKM. Pengalaman kedua masjid menyimpulkan bahwa kejelasan mandat struktural dan saling percaya adalah kunci: yayasan mengawal payung hukum dan aset jangka panjang, sementara takmir/DKM bergerak lincah di lapangan melayani kebutuhan ibadah jamaah.
Aspek digitalisasi masjid turut menjadi sorotan tajam. H. M. Natsir menggarisbawahi pentingnya masjid memiliki identitas digital yang tertata rapi. Profil kegiatan dan program sosial yang terpublikasi di situs web dan media sosial terbukti membuka pintu kemitraan strategis, seperti kemudahan menyerap program CSR dari berbagai instansi dan perbankan syariah.
Gayung bersambut, Ah. Azharuddin Lathif menuturkan bahwa Masjid An-Nur pun kini terus berbenah meremajakan sistem informasi dan portal daringnya agar akuntabilitas serta dokumentasi dakwah dapat diakses terbuka oleh jamaah.
Bukan sekadar ajang kangen pasca-pelatihan MRBJ, pertemuan singkat yang padat ini membuahkan rencana sinergi konkret antar-kedua masjid:
Saat azan Isya mulai berkumandang, pertemuan dipuncaki dengan sesi foto bersama di ruang tamu. Senyum merekah dan kepalan tangan penuh optimisme tampak dari wajah para pengurus.
Kunjungan silaturahim ini membuktikan bahwa resonansi pelatihan MRBJ bukan sekadar catatan di atas kertas. Di tangan para pengurus yang tulus dan berlapang dada, sekat antarmesjid luruh menjadi jembatan kolaborasi demi mewujudkan masjid yang berdaya, makmur, dan membahagiakan jamaahnya.