
Tangerang Selatan, 27 September 2026 – Kajian Keislaman ahad pagi baru saja usai ketika aktivitas tak biasa mulai terlihat di pelataran Masjid An Nur Pamulang Permai 1, Blok AX-BX. Udara pagi masih menyisakan dingin, namun kehangatan sudah terasa dari senyum persaudaraan yang merekah. Hari itu bukan hari Minggu biasa bagi jamaah Masjid An Nur; hari itu adalah hari di mana dua simpul kebaikan dari wilayah berbeda—Pamulang dan Ciputat—bersatu dalam sebuah ikhtiar mulia.
Masjid An Nur, dengan kemegahan pintu ukiran kayunya yang khas, sedang bersiap menerima tamu istimewa. Mereka adalah Remaja Masjid Daruttauhid Ciputat, barisan santri muda dari pesantren binaan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yang terkenal dengan slogan “Manajemen Qolbu”-nya. Kolaborasi ini bukan sekadar tentang membersihkan debu, melainkan sebuah narasi tentang syiar pemuda Islam, penguatan silaturahmi, dan pendidikan karakter melalui aksi nyata di lapangan.
Kegiatan kerjabakti ini diberi tajuk program “Sapu Masjid”, singkatan dari “Sahabat Peduli Masjid”. Ini adalah sebuah inisiatif dari gerakan “Move” (Moslem of Value)—sebuah komunitas remaja masjid di bawah naungan Pesantren Daruttauhid Ciputat—yang fokus pada revitalisasi fungsi masjid melalui keterlibatan pemuda.
Matahari mulai meninggi ketika rombongan santri dari Ciputat tiba. Sedikit terlambat dari jadwal karena adanya kendala teknis di jalan, namun semangat mereka tak luluh sedikit pun. Di teras samping masjid, beralaskan lantai keramik bermotif, sebuah pertemuan lesehan sederhana namun penuh makna pun digelar.
Ketua Masjid An Nur Pamulang Permai 1, Blok AX-BX, Ustaz Ah Azharuddin Lathif, duduk melingkar bersama para pengurus masjid dan perwakilan remaja. Di hadapannya, berdiri seorang pemuda yang tak asing lagi bagi barisan santri DT Ciputat, Kakak Wildan Al Biruni Yahya. Kakak Wildan, sebagaimana ia akrab disapa, adalah Koordinator Remaja Masjid DT Ciputat untuk gerakan Sapu Masjid kali ini.
Pertemuan dibuka dengan permohonan maaf dari Kakak Wildan atas keterlambatan mereka. Namun, Ustaz Azharuddin—yang sehari-hari juga mengabdi sebagai pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—menerimanya dengan tangan terbuka. “Kami sangat bersyukur dan bahagia atas kedatangan adik-adik semua. Ini adalah kehormatan bagi kami,” sambutnya hangat.
Kakak Wildan kemudian memaparkan visi “Sapu Masjid”. “Ustaz, pada dasarnya kami dari komunitas ‘Move’ adalah santri-santri yang tertarik memakmurkan masjid. Kegiatan kolaboratif ini adalah bagian dari program magang kami, ‘Sapu Masjid’. Tujuannya adalah untuk bersilaturahmi ke masjid-masjid luar, sekaligus memberikan sedikit pengabdian yang kami bisa,” jelas pemuda itu, menguraikan visi gerakan mereka.
Dari 20 santri yang mendaftar, hari itu 17 santri hadir penuh semangat. “Tiga orang sedang sakit, jadi kami hadir 17 orang. Tapi jangan khawatir, Ustaz. Berikan kami target apa saja, insya Allah kami siap. Kami tidak punya target khusus, kami datang untuk pengabdian,” tegas Kakak Wildan, mencerminkan mentalitas santri DT yang siap kerja.
Ustaz Azharuddin, menyadari semangat tamu-tamunya, memberikan pengantar yang jujur. “Alhamdulillah, masjid kami ini relatif bersih, Kak Wildan. Kami memiliki lima petugas kebersihan yang aktif menjaga masjid, gedung Diniyah, bahkan lapangan sampai ke ujung,” ujarnya, menggambarkan luasnya kompleks masjid.
Oleh karena itu, strategi kerjabakti kali ini tidak fokus pada pembersihan massal area yang sudah bersih, melainkan pada pembersihan “detail”. Di sinilah Pak Ismet, perwakilan pengurus operasional Masjid An Nur, mengambil alih komando teknis.
“Kerja kita hari ini akan berbeda. Kita akan melakukan pembersihan yang mendalam, yang mungkin tidak sempat dilakukan petugas kebersihan harian,” ujar Pak Ismet. Beliau memaparkan detail yang ingin dicapai: sela-sela lantai yang tersembunyi, kisi-kisi ukiran pintu, bagian atas lemari, hingga detail pada area tempat wudhu.
Pak Ismet segera membagi pasukan 17 orang itu ke dalam beberapa kelompok kecil. “Pertama, karena area utama sudah bersih, kita akan mulai dengan area paling krusial bagi jamaah: dua tempat wudhu (pria dan wanita). Area wudhu utama dan kamar mandi di bagian dalam akan menjadi fokus,” urainya. Empat orang ditugaskan khusus untuk kamar mandi utama, empat orang untuk area wudhu, dua orang untuk wudhu luar di sebelah Selatan, dan sisanya disebar ke area lantai lobi dan koridor.
Mentalitas mandiri santri DT kembali terlihat ketika Pak Ismet bertanya tentang peralatan. Kakak Wildan menjelaskan, “Kami membawa alat sendiri, Ustaz. Sapu, alat pel, ember, bahkan cairan pembersih seperti Wipol sudah kami bawa. Jadi petugas di sini tidak perlu repot menyiapkannya.”
Usai doa bersama, kompleks Masjid An Nur segera bertransformasi menjadi area kerja yang sibuk namun terorganisir. Tidak ada teriakan berlebihan; yang ada hanyalah suara sikat yang beradu dengan keramik, deru sapu lidi, dan gerakan terukur para santri.
Di area “Wudhu Pria”, dua santri bekerja dengan tekun. Seorang santri berkaus hijau terlihat berdiri, menyikat dinding keramik di bawah pancuran air, memastikan setiap celah grout (sela-sela keramik) bersih dari jamur atau noda. Ember kuning “Wipol” dan sikat gagang panjang menjadi senjatanya. Santri lain bekerja di lantai, memastikan lantai tidak licin setelah disikat. Gerakan mereka sinkron, menunjukkan kerja tim yang solid.
Pindah ke area lobi depan pintu kayu besar berukir, seorang santri berkaus hitam bekerja sendirian namun detail. Ia membungkuk, menyikat detail lantai marmer di sela-sela batas suci. Sikatnya yang kecil menangkap debu-debu yang terlewat oleh petugas harian. Sesaat kemudian, ia pindah ke ukiran pintu, menggunakan kain lap mikrofiber untuk membersihkan kisi-kisi ukiran Jawa-nya yang rumit. Di sinilah “Manajemen Qolbu” Aa Gym—yang mengajarkan ketelitian dan keikhlasan—diaplikasikan dalam bentuk sikat dan lap.
Sementara itu, di koridor luar yang panjang, santri putri yang mengenakan jilbab hitam terlihat beraksi. Meskipun menggunakan pakaian yang syar’i, tidak ada gerakan yang canggung. Seorang santri putri dengan lihai mendorong alat pel, memastikan lantai koridor mengilap di bawah sinar matahari pagi. Santri putri lainnya bekerja di bagian tepi, menggunakan ember pel untuk memastikan air tidak meluap ke area suci.
Di luar, di bawah naungan pohon palm dan ketapang, dua santri pria dengan kaus hitam terlihat menyapu dedaunan kering yang jatuh di lapangan luas masjid. Sapu lidi mereka bergerak cepat, memastikan daun tidak menumpuk dan field terlihat rapi. Kegiatan ini memastikan estetika masjid dari luar sama bersihnya dengan bagian dalam.
Bahkan detail di luar bangunan pun tak luput dari perhatian. Di sepanjang jalan setapak ber-paving block, dua santri terlihat membungkuk, sibuk mencabut rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan namun penting untuk menjaga kerapian kompleks.
Kerjabakti bukanlah tentang kerja tanpa henti. Di tengah hari, aktivitas dihentikan sejenak untuk istirahat. Di meja lobi samping pintu ukir, pengurus Masjid An Nur telah menyiapkan hidangan sederhana namun penuh makna: teh panas dari dispenser hot water, snack gorengan seperti pisang goreng dan tahu isi yang masih hangat, kopi instan, dan air mineral botolan. serta Es Teler. Snack tersebut diletakkan dalam wadah plastik besar yang tertutup.
Para santri dan pengurus duduk lesehan bersama di area lobi yang baru saja mereka bersihkan. Di sinilah percakapan yang lebih santai terjadi. Ustaz Azharuddin kembali bercerita tentang aktivitas kesehariannya sebagai dosen UIN Jakarta, dan para santri DT mendengarkan dengan antusias, sesekali bertanya tentang tips kuliah. “Meja snack” itu menjadi jembatan silaturahmi yang kokoh, meleburkan batasan usia dan status.
Ketika waktu kerjabakti berakhir pada pukul 08.15 WIB, transformasi Masjid An Nur sungguh mempesona. Area tempat wudhu tidak hanya bersih, tetapi juga harum oleh aroma cairan pembersih. Lantai lobi dan koridor mengilap, memantulkan sinar matahari pagi. Kisi-kisi pintu ukiran kayu yang rumit tampak berkilau, bebas dari debu. Bahkan rumput di paving block pun bersih.
Lebih dari sekadar kebersihan fisik, kolaborasi “Sapu Masjid” ini telah meninggalkan jejak harumi di hati kedua belah pihak. Bagi Masjid An Nur Pamulang Permai 1, ini adalah kunjungan pemuda yang menyegarkan semangat mereka. Bagi santri DT Ciputat, ini adalah ladang amal nyata untuk mempraktikkan “Manajemen Qolbu” Aa Gym di dunia nyata.
Sinergi antara Ustaz Ah Azharuddin Lathif, Kakak Wildan Al Biruni Yahya, Pak Ismet, dan 17 santri muda ini telah membuktikan bahwa kebaikan bisa berlipat ganda ketika dibagikan. “Sapu Masjid” hari itu tidak hanya membersihkan masjid An Nur, tetapi juga menyapu bersih sekat-sekat geografis dan menyatukan mereka dalam satu pengabdian: menjaga rumah Allah. Pamulang dan Ciputat hari itu berdiri bersama, meninggalkan jejak harumi bagi jamaah. (AZLAF)