
Lampu-lampu jalan di sudut Pamulang Permai mulai temaram ketika panggilan azan Subuh mengalun dari menara Masjid An-Nur. Pagi masih basah oleh sisa embun. Satu demi satu langkah kaki bergegas merapatkan diri, menyatukan bahu di atas hamparan shaf yang tenang.
Selepas salam terucap dan zikir mengalir perlahan, ada jeda sunyi yang menyelimuti ruang masjid. Di saat-saat hening seperti itulah, hati manusia kerap menghadapi ujian terhalusnya.
Tanpa aba-aba, sering terlintas bisikan lembut yang menyelinap ke relung dada: “Lihatlah dirimu, mampu bangun mendahului fajar, istiqamah berjamaah, dan melipatgandakan sedekah—sementara di luar sana, begitu banyak orang yang masih terlelap dan lalai.”
Bisikan itu tidak terasa berdosa. Ia tidak mengajak kita berbuat maksiat. Justru sebaliknya, ia mengenakan jubah kesalehan. Namun, di titik rapuh itulah racun bernama ‘ujub (kekaguman terhadap diri sendiri) mulai menetes pelan-pelan ke dalam kalbu.
Dalam kitab klasik yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid 7, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali melukiskan hakikat ‘ujub dengan sangat jernih:
‘Ujub adalah tatkala seseorang memandang besar suatu kebaikan atau amal yang ada pada dirinya, merasa tenang dan bangga dengannya, namun lupa menyandarkan bahwa kebaikan itu semata-mata anugerah dari Dzat Yang Maha Memberi Nikmat (Al-Mun’im).
Jika seorang pelaku maksiat jatuh karena kelalaian fisiknya, maka orang yang rajin beribadah sering kali tersandung oleh kesucian yang ia sangkakan pada dirinya sendiri. ‘Ujub berbahaya justru karena ia tidak berwujud seperti kemaksiatan yang kasar. Ia bekerja senyap: membiarkan dahi kita tetap menyentuh sajadah, namun pelan-pelan mengangkat hidung kita agar merasa lebih tinggi daripada sesama hamba.
Padahal, siapakah yang sesungguhnya melangkahkan kaki kita ke masjid ini di kala fajar? Siapa yang melembutkan hati kita untuk menyisihkan sebagian rezeki bagi yatim dan dhuafa?
Semuanya adalah taufik dan izin Allah Swt. Bila Allah menahan nikmat itu sedetik saja, kita tak ubahnya tanah liat yang kering dan rapuh.
Mengapa Rasulullah ﷺ dan para sahabat begitu mencemaskan penyakit batin ini?
Dalam lembaran 40 Hadits Tentang Amalan-Amalan Hati (Hadits Ke-20), Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang seseorang di masa lalu yang berjalan dengan rasa bangga akan keelokan pakaian dan rambutnya, hingga Allah membenamkannya ke perut bumi dan ia terombang-ambing di dalamnya hingga hari kiamat.
Beliau ﷺ juga memasukkan kekaguman pada diri sendiri sebagai salah satu perusak utama:
“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban seseorang terhadap dirinya sendiri (i’jab al-mar’i binafsihi).” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi).
Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud r.a., pernah merangkum bahaya ini dalam sebuah perenungan mendalam:
“Kebinasaan itu terangkum pada dua perkara: putus asa dan ‘ujub.”
Imam Al-Ghazali menjelaskan kaitan keduanya: orang yang putus asa binasa karena ia merasa ampunan Allah terlalu sempit sehingga enggan beramal. Sebaliknya, orang yang ‘ujub binasa karena ia merasa timbangan amalnya sudah terlalu sarat, sehingga ia merasa telah aman dari azab, berhenti bertaubat, dan memandang remeh dosa-dosanya sendiri.
Keduanya sama-sama melupakan Allah—yang satu putus asa dari rahmat-Nya, yang lain merasa kebal dari perhitungan-Nya.
Dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di Pamulang, pintu ‘ujub bisa terbuka bukan hanya dari sajadah, melainkan dari berbagai celah kehidupan sehari-hari:
Saat benih ‘ujub ini dibiarkan membesar, ia akan bermutasi menjadi kesombongan (takabur). Ketiadaan rasa tawadhu’ membuat manusia menolak kebenaran dan memandang sesamanya dengan sudut mata meremehkan.
Lantas, bagaimana kita membasuh hati dari debu ‘ujub yang nyaris tak kasatmata ini?
Imam Al-Ghazali menuntun kita kembali kepada obat paling mujarab: Ma’rifat (mengenal hakikat diri dan Allah Swt.).
Sahabat jamaah Masjid An-Nur yang dirahmati Allah,
Masjid ini didirikan dengan nama An-Nur—sebuah cahaya yang diharapkan menerangi jalan kita menuju keridhaan-Nya. Namun, jangan sampai cahaya ibadah yang kita upayakan justru padam oleh pekatnya kabut ‘ujub di dalam dada.
Tatkala kita melangkah keluar dari serambi masjid menuju rumah dan tempat kerja kita masing-masing, tundukkanlah pandangan ke arah tanah yang kita pijak. Ingatkan jiwa kita yang fana: “Kita datang dari tanah, hidup membawa debu, dan kelak akan kembali ke liang tanah. Tidak ada yang layak dibanggakan oleh sebutir debu di hadapan Rabb Semesta Alam.”
Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga keikhlasan amal kita, menyucikan kalbu dari penyakit ‘ujub dan riya’, serta mengumpulkan kita di akhirat kelak dengan hati yang selamat (qalbun salim).
Disarikan dari telaah pustaka: