
Di era modern yang serba terukur hari ini, hidup kita sering kali disibukkan oleh deretan angka. Kita menghitung saldo di rekening bank, menghitung luas meter persegi tempat tinggal, menghitung jam kerja dari pagi hingga malam, dan mengejar target-target pencapaian duniawi.
Namun, di tengah segala kelimpahan dan kecanggihan fasilitas di sudut-sudut kota kita di Tangerang Selatan, pernahkah kita merasakan sebuah kegelisahan yang ganjil?
Penghasilan bertambah, namun kebutuhan seakan melompat lebih tinggi. Rumah semakin lega, namun percakapan hangat di dalam keluarga justru semakin sunyi. Waktu terasa melesat begitu cepat tanpa sempat menyisakan ketenangan di dalam dada.
Mengapa apa yang kita kumpulkan terasa lekas menguap tanpa bekas?
Di titik perenungan inilah, Islam memperkenalkan sebuah konsep ruhani yang amat agung dan menyejukkan: Berkah (Barakah).
Secara kebahasaan, para ulama menjelaskan bahwa kata barakah berakar dari kata yang sama dengan birkah, yakni telaga atau kolam yang menampung air melimpah dan tidak pernah kering.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab Mufradat Alfazh Al-Qur’an mendefinisikan berkah sebagai:
“Tsubutul khairil ilahi fis syai’” — Tetap dan langgengnya kebaikan ilahi pada sesuatu.
Sedangkan Imam An-Nawawi rahimahullah merangkumnya sebagai katsratul khair wa tsubutuhu—melimpahnya kebaikan dan kelanggengannya. Para ulama salaf juga sering menyebut berkah dengan ungkapan ringkas: ziyadatul khair (bertambahnya nilai-nilai kebajikan).
Berkah bukanlah soal kuantitas matematis, melainkan soal kualitas dan dampak spiritual.
Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat agar senantiasa berburu berkah, bukan sekadar memburu angka.
Dalam urusan makanan, beliau ﷺ bersabda:
“Makanan untuk dua orang mencukupi untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang mencukupi untuk empat orang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Bagi logika matematika semata, membagi makanan untuk dua orang kepada empat orang akan membuat porsi berkurang separuh. Namun di dalam ruang keimanan, sentuhan berkah bekerja melampaui logika hitung-hitungan. Makanan yang sedikit itu melahirkan rasa kenyang yang nyaman, menautkan hati-hati yang saling mengasihi, dan mengalirkan energi untuk berdiri dalam shalat.
Kita sering menyaksikan keajaiban berkah ini di serambi Masjid An-Nur:
Berkah juga meresap ke dalam tarikan napas dan detik waktu kita.
Nabi Isa ‘alaihissalam mengabadikan doa dan hakikat dirinya dalam Al-Qur’an:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam [19]: 31).
Para mufassir menjelaskan, makna “orang yang diberkahi di mana pun berada” adalah orang yang keberadaannya selalu menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu keburukan bagi sesamanya. Kehadirannya menenteramkan orang lain, nasihatnya membimbing, dan amalnya menjadi teladan.
Kita melihat para ulama terdahulu, seperti Imam An-Nawawi yang wafat di usia muda (sekitar 45 tahun), namun karya-karya beliau seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah dibaca jutaan umat manusia lintas abad hingga hari ini. Umurnya mungkin singkat secara hitungan kalender, namun umurnya sangat panjang dan melimpah dalam hitungan keberkahan.
Sebaliknya, betapa malangnya seseorang yang diberi usia 70 atau 80 tahun di dunia, namun hari-harinya hanya dihabiskan untuk menumpuk penyesalan dan kelalaian dari mengingat Allah.
Bagaimanakah seorang mukmin menjemput berkah Allah agar memayungi rumah tangga, rezeki, dan sisa umurnya?
Al-Qur’an dan Sunnah memberikan panduan yang sangat jelas:
Sahabat jamaah Masjid An-Nur yang dimuliakan Allah,
Rezeki yang banyak belum tentu merupakan anugerah jika ia melalaikan. Namun rezeki yang berkah—berapapun jumlah yang Allah takdirkan hari ini—pasti akan menyelamatkan.
Mari kita luruskan kembali arah doa-doa kita. Jangan hanya meminta kepada Allah: “Ya Rabb, tambahkanlah hartaku,” tetapi mintalah dengan penuh kerendahan hati:
“Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, cukupkanlah jiwaku dengan yang halal, dan jadikanlah hidupku bermanfaat bagi sesama hamba-Mu.”
Semoga setiap langkah kita menuju Masjid An-Nur, setiap rupiah yang kita infakkan, dan setiap salam yang kita tebarkan menjadi benih-benih keberkahan yang menghangatkan rumah tangga kita di dunia dan menerangi kubur kita di akhirat kelak.