Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Jum, 09 Oktober 2026

Ketika yang Sedikit Mencukupi dan yang Banyak Menenteramkan

Ketika yang Sedikit Mencukupi dan yang Banyak Menenteramkan

Di era modern yang serba terukur hari ini, hidup kita sering kali disibukkan oleh deretan angka. Kita menghitung saldo di rekening bank, menghitung luas meter persegi tempat tinggal, menghitung jam kerja dari pagi hingga malam, dan mengejar target-target pencapaian duniawi.

Namun, di tengah segala kelimpahan dan kecanggihan fasilitas di sudut-sudut kota kita di Tangerang Selatan, pernahkah kita merasakan sebuah kegelisahan yang ganjil?

Penghasilan bertambah, namun kebutuhan seakan melompat lebih tinggi. Rumah semakin lega, namun percakapan hangat di dalam keluarga justru semakin sunyi. Waktu terasa melesat begitu cepat tanpa sempat menyisakan ketenangan di dalam dada.

Mengapa apa yang kita kumpulkan terasa lekas menguap tanpa bekas?

Di titik perenungan inilah, Islam memperkenalkan sebuah konsep ruhani yang amat agung dan menyejukkan: Berkah (Barakah).

Makna Berkah: Kebaikan yang Bertumbuh dan Kekal

Secara kebahasaan, para ulama menjelaskan bahwa kata barakah berakar dari kata yang sama dengan birkah, yakni telaga atau kolam yang menampung air melimpah dan tidak pernah kering.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab Mufradat Alfazh Al-Qur’an mendefinisikan berkah sebagai:

“Tsubutul khairil ilahi fis syai’” — Tetap dan langgengnya kebaikan ilahi pada sesuatu.

Sedangkan Imam An-Nawawi rahimahullah merangkumnya sebagai katsratul khair wa tsubutuhu—melimpahnya kebaikan dan kelanggengannya. Para ulama salaf juga sering menyebut berkah dengan ungkapan ringkas: ziyadatul khair (bertambahnya nilai-nilai kebajikan).

Berkah bukanlah soal kuantitas matematis, melainkan soal kualitas dan dampak spiritual.

  • Sesuatu yang diberkahi Allah, meskipun secara kasatmata tampak sedikit, ia akan mencukupi kebutuhan, mendatangkan rasa puas (qana’ah), dan menjauhkan pemiliknya dari keluh kesah.
  • Sebaliknya, sesuatu yang dicabut berkahnya, kendati bertumpuk-tumpuk secara nominal, ia hanya akan melahirkan rasa haus yang tak pernah terpuaskan, mendatangkan pertikaian, dan menyeret pemiliknya ke jurang maksiat.

Jejak Keberkahan dalam Keseharian

Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat agar senantiasa berburu berkah, bukan sekadar memburu angka.

Dalam urusan makanan, beliau ﷺ bersabda:

“Makanan untuk dua orang mencukupi untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang mencukupi untuk empat orang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Bagi logika matematika semata, membagi makanan untuk dua orang kepada empat orang akan membuat porsi berkurang separuh. Namun di dalam ruang keimanan, sentuhan berkah bekerja melampaui logika hitung-hitungan. Makanan yang sedikit itu melahirkan rasa kenyang yang nyaman, menautkan hati-hati yang saling mengasihi, dan mengalirkan energi untuk berdiri dalam shalat.

Kita sering menyaksikan keajaiban berkah ini di serambi Masjid An-Nur:

  • Sepiring hidangan buka puasa sunnah atau sekotak makanan ringan yang dinikmati bersama di antara para jamaah terasa begitu nikmat dan membahagiakan, jauh melebihi jamuan mewah yang disantap dalam kesendirian dan keangkuhan.
  • Selembar uang infak yang disisihkan seorang pedagang kecil dengan hati bergetar karena Allah sering kali menjadi tameng yang menolak bala bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang shalih, dan mengalirkan pahala jariyah yang abadi.

Waktu yang Diberkahi: Mengapa Usia Terasa Begitu Bermakna?

Berkah juga meresap ke dalam tarikan napas dan detik waktu kita.

Nabi Isa ‘alaihissalam mengabadikan doa dan hakikat dirinya dalam Al-Qur’an:

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam [19]: 31).

Para mufassir menjelaskan, makna “orang yang diberkahi di mana pun berada” adalah orang yang keberadaannya selalu menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu keburukan bagi sesamanya. Kehadirannya menenteramkan orang lain, nasihatnya membimbing, dan amalnya menjadi teladan.

Kita melihat para ulama terdahulu, seperti Imam An-Nawawi yang wafat di usia muda (sekitar 45 tahun), namun karya-karya beliau seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah dibaca jutaan umat manusia lintas abad hingga hari ini. Umurnya mungkin singkat secara hitungan kalender, namun umurnya sangat panjang dan melimpah dalam hitungan keberkahan.

Sebaliknya, betapa malangnya seseorang yang diberi usia 70 atau 80 tahun di dunia, namun hari-harinya hanya dihabiskan untuk menumpuk penyesalan dan kelalaian dari mengingat Allah.

Mengetuk Pintu-Pintu Keberkahan

Bagaimanakah seorang mukmin menjemput berkah Allah agar memayungi rumah tangga, rezeki, dan sisa umurnya?

Al-Qur’an dan Sunnah memberikan panduan yang sangat jelas:

  1. Iman dan Takwa Kolektif: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf [7]: 96). Kejujuran seorang pedagang, keikhlasan seorang pekerja, dan ketundukan warga pada syariat Allah adalah magnet terbesar yang menurunkan berkah langit dan bumi ke lingkungan kita.
  2. Menjaga Kejujuran dalam Berniaga dan Bekerja: Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa dua orang yang bertransaksi akan diberkahi jual-belinya selama keduanya bersikap jujur dan transparan; namun jika mereka berdusta dan menyembunyikan cacat, maka berkah perniagaan mereka akan dimusnahkan (HR. Bukhari).
  3. Menyambung Tali Silaturahmi: Silaturahmi di antara sesama jamaah dan tetangga di lingkungan Pamulang Permai bukan hanya mempererat kerukunan sosial, melainkan dijanjikan oleh Rasulullah ﷺ sebagai jalan dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya usia dalam ketaatan.
  4. Memulai Pagi dengan Ketaatan: Doa Rasulullah ﷺ senantiasa mengiringi hamba-hamba yang bangun menyambut fajar: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Shalat Subuh berjamaah dan zikir pagi di masjid adalah fondasi keberkahan hari yang tak ternilai harganya.

Doa dan Harapan di Rumah Allah

Sahabat jamaah Masjid An-Nur yang dimuliakan Allah,

Rezeki yang banyak belum tentu merupakan anugerah jika ia melalaikan. Namun rezeki yang berkah—berapapun jumlah yang Allah takdirkan hari ini—pasti akan menyelamatkan.

Mari kita luruskan kembali arah doa-doa kita. Jangan hanya meminta kepada Allah: “Ya Rabb, tambahkanlah hartaku,” tetapi mintalah dengan penuh kerendahan hati:

“Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, cukupkanlah jiwaku dengan yang halal, dan jadikanlah hidupku bermanfaat bagi sesama hamba-Mu.”

Semoga setiap langkah kita menuju Masjid An-Nur, setiap rupiah yang kita infakkan, dan setiap salam yang kita tebarkan menjadi benih-benih keberkahan yang menghangatkan rumah tangga kita di dunia dan menerangi kubur kita di akhirat kelak.

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.