Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Ming, 04 Oktober 2026

Bahaya ‘Ujub bagi Jiwa yang Beribadah

Bahaya ‘Ujub bagi Jiwa yang Beribadah

Lampu-lampu jalan di sudut Pamulang Permai mulai temaram ketika panggilan azan Subuh mengalun dari menara Masjid An-Nur. Pagi masih basah oleh sisa embun. Satu demi satu langkah kaki bergegas merapatkan diri, menyatukan bahu di atas hamparan shaf yang tenang.

Selepas salam terucap dan zikir mengalir perlahan, ada jeda sunyi yang menyelimuti ruang masjid. Di saat-saat hening seperti itulah, hati manusia kerap menghadapi ujian terhalusnya.

Tanpa aba-aba, sering terlintas bisikan lembut yang menyelinap ke relung dada: “Lihatlah dirimu, mampu bangun mendahului fajar, istiqamah berjamaah, dan melipatgandakan sedekah—sementara di luar sana, begitu banyak orang yang masih terlelap dan lalai.”

Bisikan itu tidak terasa berdosa. Ia tidak mengajak kita berbuat maksiat. Justru sebaliknya, ia mengenakan jubah kesalehan. Namun, di titik rapuh itulah racun bernama ‘ujub (kekaguman terhadap diri sendiri) mulai menetes pelan-pelan ke dalam kalbu.

Ketika Racun Menyerang di Tempat Bersujud

Dalam kitab klasik yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid 7, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali melukiskan hakikat ‘ujub dengan sangat jernih:

‘Ujub adalah tatkala seseorang memandang besar suatu kebaikan atau amal yang ada pada dirinya, merasa tenang dan bangga dengannya, namun lupa menyandarkan bahwa kebaikan itu semata-mata anugerah dari Dzat Yang Maha Memberi Nikmat (Al-Mun’im).

Jika seorang pelaku maksiat jatuh karena kelalaian fisiknya, maka orang yang rajin beribadah sering kali tersandung oleh kesucian yang ia sangkakan pada dirinya sendiri. ‘Ujub berbahaya justru karena ia tidak berwujud seperti kemaksiatan yang kasar. Ia bekerja senyap: membiarkan dahi kita tetap menyentuh sajadah, namun pelan-pelan mengangkat hidung kita agar merasa lebih tinggi daripada sesama hamba.

Padahal, siapakah yang sesungguhnya melangkahkan kaki kita ke masjid ini di kala fajar? Siapa yang melembutkan hati kita untuk menyisihkan sebagian rezeki bagi yatim dan dhuafa?

Semuanya adalah taufik dan izin Allah Swt. Bila Allah menahan nikmat itu sedetik saja, kita tak ubahnya tanah liat yang kering dan rapuh.

Jerat yang Menghapus Jejak Kebaikan

Mengapa Rasulullah ﷺ dan para sahabat begitu mencemaskan penyakit batin ini?

Dalam lembaran 40 Hadits Tentang Amalan-Amalan Hati (Hadits Ke-20), Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang seseorang di masa lalu yang berjalan dengan rasa bangga akan keelokan pakaian dan rambutnya, hingga Allah membenamkannya ke perut bumi dan ia terombang-ambing di dalamnya hingga hari kiamat.

Beliau ﷺ juga memasukkan kekaguman pada diri sendiri sebagai salah satu perusak utama:

“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban seseorang terhadap dirinya sendiri (i’jab al-mar’i binafsihi).” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi).

Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud r.a., pernah merangkum bahaya ini dalam sebuah perenungan mendalam:

“Kebinasaan itu terangkum pada dua perkara: putus asa dan ‘ujub.”

Imam Al-Ghazali menjelaskan kaitan keduanya: orang yang putus asa binasa karena ia merasa ampunan Allah terlalu sempit sehingga enggan beramal. Sebaliknya, orang yang ‘ujub binasa karena ia merasa timbangan amalnya sudah terlalu sarat, sehingga ia merasa telah aman dari azab, berhenti bertaubat, dan memandang remeh dosa-dosanya sendiri.

Keduanya sama-sama melupakan Allah—yang satu putus asa dari rahmat-Nya, yang lain merasa kebal dari perhitungan-Nya.

Pintu-Pintu yang Kerap Memperdaya

Dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di Pamulang, pintu ‘ujub bisa terbuka bukan hanya dari sajadah, melainkan dari berbagai celah kehidupan sehari-hari:

  1. ‘Ujub dengan Keistiqamahan: Merasa lebih mulia dibanding saudara kita yang belum dimudahkan hadir di shaf terdepan.
  2. ‘Ujub dengan Ilmu dan Pengetahuan: Merasa wawasan keislaman kita paling shahih, sehingga mudah mendebat, menyalahkan, dan enggan menerima nasihat dari orang lain.
  3. ‘Ujub dengan Jabatan dan Kedermawanan: Merasa masjid atau lingkungan ini berutang budi atas curahan waktu, tenaga, dan materi yang telah kita berikan.
  4. ‘Ujub dengan Nasab dan Kehormatan: Merasa keturunan atau status keluarga kita berhak atas penghormatan berlebih dari jamaah lain.

Saat benih ‘ujub ini dibiarkan membesar, ia akan bermutasi menjadi kesombongan (takabur). Ketiadaan rasa tawadhu’ membuat manusia menolak kebenaran dan memandang sesamanya dengan sudut mata meremehkan.

Membasuh Debu di Depan Pintu Rumah Allah

Lantas, bagaimana kita membasuh hati dari debu ‘ujub yang nyaris tak kasatmata ini?

Imam Al-Ghazali menuntun kita kembali kepada obat paling mujarab: Ma’rifat (mengenal hakikat diri dan Allah Swt.).

  1. Mengingat Aib dan Dosa Pribadi: Bila orang lain melihat kita sebagai orang shalih, itu bukan karena kita suci, melainkan karena Allah yang Maha Pengasih masih berkenan menutup rapat-rapat aib dan masa lalu kita. Jika seluruh rahasia batin kita dibuka ke hadapan manusia, niscaya tak ada seorang pun yang sudi duduk berdampingan dengan kita di masjid ini.
  2. Menyandarkan Segala Daya Hanya kepada-Nya: Tanamkan makna “La haula wa la quwwata illa billah” ke dalam setiap embusan napas. Kebaikan yang kita lakukan bukanlah tanda kehebatan kita, melainkan bukti kasih sayang Allah yang sudi memilih tubuh yang berlumur cela ini untuk digerakkan dalam ketaatan.
  3. Menjaga Tangisan Penyesalan: Para ulama terdahulu sering berbisik: “Sungguh, desah penyesalan seorang hamba yang menangis meratapi kelemahannya jauh lebih harum di hadapan Allah daripada takbir orang yang beribadah sembari memandang tinggi dirinya sendiri.”

Pulang dengan Kepala Tertunduk

Sahabat jamaah Masjid An-Nur yang dirahmati Allah,

Masjid ini didirikan dengan nama An-Nur—sebuah cahaya yang diharapkan menerangi jalan kita menuju keridhaan-Nya. Namun, jangan sampai cahaya ibadah yang kita upayakan justru padam oleh pekatnya kabut ‘ujub di dalam dada.

Tatkala kita melangkah keluar dari serambi masjid menuju rumah dan tempat kerja kita masing-masing, tundukkanlah pandangan ke arah tanah yang kita pijak. Ingatkan jiwa kita yang fana: “Kita datang dari tanah, hidup membawa debu, dan kelak akan kembali ke liang tanah. Tidak ada yang layak dibanggakan oleh sebutir debu di hadapan Rabb Semesta Alam.”

Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga keikhlasan amal kita, menyucikan kalbu dari penyakit ‘ujub dan riya’, serta mengumpulkan kita di akhirat kelak dengan hati yang selamat (qalbun salim).

Disarikan dari telaah pustaka:

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.