
Kita terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang begitu lemah, tanpa daya. Sebuah tangisan pertama kita pun membutuhkan uluran tangan, suapan makanan pun harus dibantu, bahkan untuk sekadar berdiri, kita butuh topangan. Dan kelak, saat perjalanan ini berakhir, kita tak akan mampu membawa diri sendiri ke liang lahat. Orang lainlah yang akan memandikan, mengafani, dan mengantar kita ke peristirahatan terakhir.
Jika demikianlah adanya, lalu pantaskah kita membusungkan dada, merasa lebih tinggi dari yang lain? Lahir ditolong, mati digotong, lalu apa yang sesungguhnya kita sombongkan?
Sering kali, kita terperangkap dalam fatamorgana dunia. Kita bangga dengan harta yang melimpah, seolah ia akan abadi dalam genggaman. Padahal, harta bisa lenyap sekejap, diterjang bencana, atau habis dalam sekejap mata. Kita menyombongkan jabatan yang tinggi, merasa berkuasa. Namun, jabatan hanyalah titipan, bisa digeser kapan saja, digantikan oleh orang lain dalam sekejap. Bahkan wajah rupawan yang kita jaga mati-matian, pada akhirnya akan keriput, termakan usia, tak bisa lagi membanggakan diri.
Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.”QS. Al-Isra: 37
Ayat ini adalah tamparan keras bagi setiap hati yang mulai merangkak tinggi karena kesombongan. Kita tidak akan pernah bisa menembus bumi saking angkuhnya, pun tak akan sampai setinggi gunung meskipun kita merasa begitu besar. Kesombongan bukan hanya menjauhkan kita dari sesama manusia, membuat kita kesepian di tengah keramaian, tetapi yang jauh lebih berbahaya, ia mengundang murka dari Sang Pencipta, Zat yang memiliki segala-galanya, termasuk diri kita.
Karena itu, marilah kita merenung. Semakin tinggi pencapaian yang kita raih dalam hidup ini, sejatinya semakin tunduklah kita di hadapan Allah yang telah menciptakan kita. Bukankah semua itu hanya anugerah dari-Nya? Semakin banyak harta yang kita miliki, seharusnya semakin banyak tangan yang bisa kita ringankan, semakin banyak senyum yang bisa kita hadirkan bagi mereka yang membutuhkan. Dan semakin luas ilmu yang kita punya, seharusnya semakin rendah hati kita dalam mengajarkannya, berbagi tanpa merasa menggurui.
Hidup ini hanyalah persinggahan, bukan tujuan abadi. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini, seperti musafir yang beristirahat sejenak di bawah pohon rindang sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya. Air mata yang kadang mengalir deras bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya jeda, sebuah fase dalam takdir yang telah digariskan. Begitu pun dengan amanah dunia yang kita pikul, semua itu hanyalah ujian dan bekal.
Ingatlah, saat ajal tiba, yang akan dinilai oleh Allah bukanlah seberapa tinggi kita pernah berdiri karena kesombongan, tetapi seberapa dalam kita pernah bersujud dalam ketakwaan. Bukan seberapa banyak pujian yang kita terima dari manusia, tetapi seberapa ikhlas amal yang kita persembahkan.
Semoga kita semua termasuk golongan manusia yang senantiasa rendah hati, yang tak pernah lelah bersyukur, dan yang selalu terhindar dari jurang kesombongan. Karena pada akhirnya, kerendahan hati itulah yang akan mengangkat derajat kita di sisi-Nya, dan kesabaran itulah yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan sejati.