
Sahabat-sahabatku, pejuang subuh yang kukasihi, pernahkah kau merasa lelah? Lelah dengan pekerjaan, lelah dengan rutinitas, lelah dengan kenyataan hidup yang tak selalu sesuai harapan?
Aku teringat perkataan seorang sahabat, “Aku lelah, ternyata apa yang kita saksikan tidak sama dengan apa yang terjadi.” Kalimat sederhana itu begitu dalam maknanya, menyiratkan kegelisahan hati yang mendalam. Ia, seorang idealis, jujur, seorang dosen sekaligus praktisi, kerap dihadapkan pada dilema dan benturan.
Sahabatku, ketahuilah bahwa lelah yang kita rasa sering kali bukan semata karena beban pekerjaan. Ia bersemayam dalam pikiran, berakar dari kekhawatiran, frustrasi, dan kebencian yang terpendam.
“Manusia yang tak mampu mengendalikan pikirannya akan hidup sebagai tawanan dari ketidakpuasan dan ketakutan.”James Allen
Mungkin kita belum menemukan makna terdalam dalam hidup ini. Di usia yang terus bertambah, pertanyaan “untuk apa?” dan “hendak ke mana?” masih saja membayangi. Namun, ingatlah sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya perbuatan itu hanya tergantung kepada niat dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.”HR. Bukhari
Maka luruskanlah niat, sahabatku. Jadikanlah setiap langkah, setiap usaha, setiap lelahmu, lillah—karena Allah semata. Ketika niat telah terpatri karena-Nya, insya Allah lelah akan terasa ringan, bahkan menjadi ladang pahala.
Hidup bukan hanya tentang berbuat baik, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga akidah, lahir dan batin. Tetaplah istiqamah dalam kebaikan, rajin beribadah, dan berjuanglah bersama subuh. Semoga Allah senantiasa meridai langkah kita.
Salam hangat,
Davy Bya