Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Sen, 12 Oktober 2026

Jejak Subuh dan Falsafah ‘5 Bentuk Memakmurkan Masjid’ di Pamulang Permai

Oleh : Masjid Annur Uncategorized
Jejak Subuh dan Falsafah ‘5 Bentuk Memakmurkan Masjid’ di Pamulang Permai

TANGERANG SELATAN — Udara Ahad pagi di kawasan Pamulang Permai 1 masih diselimuti kabut tipis dan dingin yang merayap perlahan. Jarum jam baru saja bergeser melewati pukul 05.00 WIB, tatkala salam penutup shalat Subuh berjamaah usai dikumandangkan. Lantunan zikir dan doa perlahan mengendap, namun jamaah Masjid An-Nur enggan beranjak dari saf-saf mereka. Karpet hijau masjid yang luas itu tetap dipadati ratusan warga—tua, muda, hingga anak-anak—yang duduk bersila menanti siraman rohani dalam Kajian Keislaman Ahad Pagi.

Di hadapan para jamaah, duduk seorang akademisi sekaligus tokoh penggerak dakwah, Ust. Ah. Azharuddin Lathif. Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan An-Nur Pamulang Permai (YAPP) tersebut hadir membawa tema yang sangat esensial bagi denyut nadi keumatan: “5 Bentuk Memakmurkan Masjid”.

Kajian yang berlangsung hangat selama satu jam penuh (pukul 05.00 hingga 06.00 WIB) itu bukan sekadar ceramah searah. Suasana di dalam ruang utama masjid terasa begitu hidup, syahdu, sekaligus sarat gugahan batin. Dalam pengantarnya, Ustaz Azharuddin menegaskan bahwa masjid modern tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai monumen bisu atau tempat transit ritual belaka, melainkan episentrum peradaban dan pusat pembinaan jiwa.

Fondasi Qur’ani: Hakikat Memakmurkan Rumah Allah

Mengawali paparannya, Ustaz Azharuddin melantunkan ayat suci Al-Qur’an dari Surah At-Taubah ayat 18 dengan nada yang tartil dan berwibawa:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan hanya takut kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

“Ayat ini adalah barometer keimanan kita,” tegas Ustaz Azharuddin membuka tadabburnya. Menurut beliau, predikat mukmin sejati disematkan Allah SWT kepada mereka yang memiliki kesadaran aktif dalam menghidupkan masjid. Memakmurkan masjid bukanlah tugas pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) semata, melainkan panggilan nurani setiap insan yang bersyahadat.

Dari landasan teologis itulah, beliau kemudian mengurai lima pilar konkret dalam memakmurkan masjid yang bisa diimplementasikan oleh seluruh lapisan masyarakat sehari-hari:

1. Memakmurkan dengan Kaki: Melangkah Menuju Saf Berjamaah

Pilar pertama yang ditekankan adalah memakmurkan secara fisik, yakni melalui ayunan kaki menuju masjid untuk mendirikan shalat berjamaah.

Ustaz Azharuddin menuturkan, langkah kaki seorang hamba menuju baitullah di waktu fajar maupun senja memiliki dimensi spiritual yang luar biasa di sisi Allah. Beliau menyitir hadits shahih riwayat Imam Muslim:

“Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah, setiap dua langkahnya: satu menghapus dosa dan satu meninggikan derajat.” (HR. Muslim no. 666)

“Setiap hentakan kaki kita yang menapaki aspal jalanan Pamulang di waktu dingin, saat orang lain masih terlelap, dicatat rapi oleh malaikat sebagai tabungan penghapus dosa dan tangga pengangkat kemuliaan,” tutur beliau yang disambut anggukan khusyuk para jamaah. Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak membiarkan masjid-masjid megah menjadi sunyi dari panggilan azan dan derap langkah kaki para pecinta shalat berjamaah.

2. Memakmurkan dengan Hati: Menautkan Rindu pada Baitullah

Pilar kedua berpindah dari dimensi raga ke ranah batiniah: memakmurkan dengan hati (qalb). Menurut Ustaz Azharuddin, datangnya fisik seseorang ke masjid akan hampa makna jika hatinya tertinggal di luar.

“Cintailah masjid. Jadilah pecinta masjid, bukan sekadar pengunjung musiman,” pesan beliau. Hati yang terpaut dengan masjid adalah hati yang senantiasa gelisah dan merasa kehilangan tatkala lama berjarak dari rumah Allah. Keterikatan emosional dan spiritual inilah yang kelak akan menyelamatkan seorang hamba di Padang Mahsyar.

Beliau mengingatkan hadits Rasulullah SAW mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah:

“Dan seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari no. 660)

Hati yang terikat pada masjid akan memancarkan akhlak karimah dalam kehidupan sosial, sebab ia selalu merasa berada dalam pengawasan dan rahmat Ilahi.

3. Memakmurkan dengan Waktu: Investasi Akhirat Tak Ternilai

Di tengah laju kehidupan modern yang serba cepat dan menuntut, waktu kerap menjadi komoditas yang paling pelit diberikan untuk urusan akhirat. Ustaz Azharuddin menyoroti pilar ketiga, yaitu kerelaan mengalokasikan waktu terbaik untuk masjid.

“Jangan hanya datang ke masjid saat kita sedang butuh atau saat terjepit musibah. Tetaplah hidupkan masjid dengan kehadiranmu di kala lapang maupun sempit,” serunya. Waktu yang dihabiskan untuk shalat, beriktikaf, menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melayani sesama jamaah adalah investasi paling bernilai tinggi yang tidak akan pernah mengalami devaluasi.

Merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa pergi ke masjid pada pagi atau sore hari, Allah menyediakan untuknya tempat persinggahan di surga setiap kali ia pergi pada pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ustaz Azharuddin mengajak jamaah meluangkan waktu secara terjadwal untuk mengikuti majelis-majelis taklim, pembinaan remaja, serta kegiatan sosial di lingkungan Masjid An-Nur.

4. Memakmurkan dengan Harta: Jejak Istana di Surga

Pilar keempat menyentuh aspek kedermawanan dan dukungan finansial. Menghidupkan rumah ibadah membutuhkan sokongan ekonomi yang kokoh, baik untuk operasional listrik, kebersihan, perawatan fasilitas ibadah, maupun penyantunan dhuafa di sekitarnya.

“Harta yang kita keluarkan untuk masjid sejatinya tidak pernah berkurang. Harta itu justru yang kekal abadi dan menjadi saksi cinta kita kepada Allah,” tutur Ustaz Azharuddin. Beliau menegaskan janji agung Rasulullah SAW sebagaimana tercantum dalam hadits:

“Barang siapa membangun sebuah masjid yang di dalamnya nama Allah disebut, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 735)

Sedekah dan infak untuk masjid, menurut beliau, tidak diukur semata-mata dari besaran nominal, melainkan dari keikhlasan dan istiqamah. Dari uang receh yang dimasukkan ke kotak amal hingga wakaf sarana prasarana, semuanya menjadi benteng keselamatan di akhirat.

5. Memakmurkan dengan Kemampuan: Wakaf Potensi, Profesi, dan Kreativitas

Pilar pamungkas yang mendapat penekanan segar dari Ustaz Azharuddin adalah memakmurkan dengan kemampuan (skill dan kapabilitas). Di era digital dan kemajuan teknologi, dakwah masjid memerlukan sinergi multidisiplin.

“Masjid membutuhkan para arsitek, dokter, pengusaha, ahli IT, pegiat media kreatif, guru, hingga para pemuda berjiwa manajerial. Setiap potensi, ilmu pengetahuan, relasi bisnis, dan keahlian yang dititipkan Allah adalah amanah untuk memakmurkan rumah-Nya,” urainya.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Dengan menyumbangkan keahlian profesional masing-masing, tata kelola masjid akan bertransformasi menjadi transparan, profesional, ramah anak, dan relevan dengan generasi muda. “Ambil peran, berkhidmatlah, dan jadilah bagian dari solusi bagi masjid, bukan penonton yang hanya gemar mengkritik,” pesan beliau membakar semangat.

Keutamaan Berlipat dan Visi Masjid Mandiri

Menjelang pukul 06.00 WIB, suasana masjid kian syahdu saat Ustaz Azharuddin merangkum deretan keutamaan agung bagi para pemakmur rumah ibadah:

  1. Pusat Pengagungan Nama Allah: Masjid adalah tempat termulia di muka bumi di mana asma Allah terus diagungkan siang dan malam.
  2. Didoakan Malaikat: Para malaikat senantiasa membentangkan sayap dan mendoakan ampunan bagi mereka yang berdiam diri di dalam masjid.
  3. Pahala Shalat Berjamaah 27 Derajat: Berlipat-lipatnya ganjaran shalat berjamaah dibanding shalat sendirian.
  4. Waktu Menunggu Shalat Dihitung Shalat: Setiap detik penantian menuju shalat berikutnya bernilai pahala ibadah yang sempurna.

Beliau juga mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Tidak ada suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kemudian mereka mendirikan shalat, melainkan Allah akan mencatat amal saleh mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR. Ahmad)

Kajian Subuh tersebut ditutup dengan pesan pamungkas yang menjadi motto bersama jamaah Masjid An-Nur:

“Masjid bukan hanya tempat kita singgah, tapi rumah Allah yang kita cintai dan kita hidupkan. Datang, Cinta, Berkhidmat, Memakmurkan: Masjid Hidup, Umat Kuat, Dunia Selamat, Akhirat Hebat.”

Sinar matahari pagi mulai menyinari pelataran Masjid An-Nur Pamulang Permai 1 saat jamaah bersalam-salaman dengan penuh kehangatan. Senyum merekah dan tekad baru terpancar dari wajah-wajah mereka: pulang membawa tekad untuk tidak membiarkan masjid ini sepi, melainkan terus hidup dengan langkah kaki, ketulusan hati, pengorbanan waktu, infak harta, dan dedikasi kemampuan terbaik.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.