Kamis, 29 Oktober 2026

Terbit : Sel, 13 Oktober 2026

Menjalin Sahabat Lama di Tengah Turbulensi Iklim: Pesan Kuat Byung Rhae Lee di Indonesia Rendezvous 2026

Oleh : Masjid Annur Uncategorized
Menjalin Sahabat Lama di Tengah Turbulensi Iklim: Pesan Kuat Byung Rhae Lee di Indonesia Rendezvous 2026

NUSA DUA, BALI — Suasana megah Grand Ballroom berbalut ornamen khas Pulau Dewata menyambut kehadiran para delegasi industri asuransi dan reasuransi terkemuka dari berbagai penjuru dunia. Layar lengkung raksasa menampilkan siluet candi bentar berlatar senja keemasan saat pembawa acara memanggil sosok yang telah dinantikan: Byung Rhae Lee, Chairman and CEO of the General Insurance Association of Korea (GIAK).

Langkahnya mantap menuju podium bernomor lambang perayaan 30 tahun The Indonesia Rendezvous. Kehadirannya pada ajang tahunan bergengsi edisi ke-30 ini tidak sekadar memenuhi undangan diplomasi asosiasi, melainkan membawa misi strategis: memperkokoh kemitraan lintas negara guna menjawab tantangan disrupsi global, perubahan iklim, dan transformasi perlindungan konsumen.

Di bawah tema sentral “Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance and Reinsurance Landscape”, Byung Rhae Lee mengawali sambutannya dengan salam hangat khas Indonesia yang memecah suasana formal.

“Selamat pagi, good morning,” sapanya ramah, disambut senyum dan tepuk tangan para hadirin.

Rasa bahagia terpancar jelas saat Lee mengenang momen dua tahun silam saat dirinya pertama kali menginjakkan kaki di perhelatan The 28th Indonesia Rendezvous di Bali. Kembali berdiri di panggung yang sama tepat pada usia emas tiga dekade konferensi ini, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perwakilan pemerintah Republik Indonesia, serta segenap panitia pelaksana yang berhasil mempertahankan reputasi ajang ini selama 30 tahun.

“Mempertahankan dan membesarkan gelaran akbar seperti ini selama tiga dekade berturut-turut adalah pencapaian yang luar biasa. Ini hanya terwujud berkat dedikasi serta kerja keras tanpa henti dari AAUI dan semua pihak yang terlibat,” ujar Lee dengan penuh takzim. Ia pun menaruh asa agar Indonesia Rendezvous kelak mampu bersanding sejajar dengan pertemuan reasuransi tertua dan paling prestisius di kancah dunia, seperti Rendez-Vous de Septembre di Monte Carlo.

Menghadapi Badai Risiko Baru: Dari AI hingga Krisis Iklim

Memasuki inti pidatonya, Byung Rhae Lee mengajak seluruh delegasi menatap lanskap global yang kini tengah dilanda gelombang ketidakpastian tinggi. Industri asuransi dunia, tuturnya, kini berhadapan langsung dengan lapisan risiko baru yang kian kompleks dan saling bertaut (emerging risks).

“Mulai dari perubahan iklim yang ekstrem, pergeseran demografi populasi yang menua, hingga lompatan kecerdasan buatan (AI) dan ancaman serangan siber (cyber threats). Di tengah kabut ketidakpastian yang makin pekat ini, satu hal yang harus menjadi jangkar kita: membangun kembali rasa percaya (building confidence),” tegasnya.

Bagi Lee, rasa percaya bukan sekadar retorika pemasaran, melainkan fondasi terdalam (heart of insurance) dari eksistensi industri asuransi itu sendiri. Hanya dengan modal kepercayaan publik yang kokoh, industri asuransi dan reasuransi mampu menghela pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth) serta membentuk daya tahan (resilience) menghadapi masa depan yang tak tertebak.

Dua Inovasi Berani Korea: Dewan Konsumen dan Portal Asuransi Iklim

Berangkat dari kesadaran tersebut, Lee membagikan langkah konkret yang telah ditempuh asosiasi asuransi umum di Korea Selatan (GIAK) sepanjang tahun berjalan. Ia memperkenalkan dua inisiatif kebijakan terobosan yang menarik perhatian para pelaku industri di ruangan tersebut.

Pertama, pembentukan Dewan Perlindungan Konsumen (Consumer Protection Council) pertama di sektor keuangan Korea Selatan. Lee menjelaskan bahwa langkah ini merupakan pergeseran paradigma (paradigm shift) yang fundamental.

“Kami tidak lagi bersikap reaktif—hanya menunggu masalah muncul ke permukaan baru mencari solusinya. Sebaliknya, kami mengambil inisiatif proaktif untuk menggali, membedah, dan menuntaskan persoalan langsung dari kacamata sudut pandang konsumen,” jelasnya.

Dewan ini mengintegrasikan suara dari pelaku industri, akademisi, pakar hukum, hingga lembaga swadaya perlindungan konsumen melalui empat tahapan terstruktur: identifikasi masalah, konsultasi mendalam, implementasi kebijakan, dan evaluasi berkelanjutan.

Inisiatif kedua berfokus pada mitigasi krisis iklim yang kini telah menjadi realitas hidup sehari-hari. GIAK menggandeng lembaga meteorologi nasional Korea (Korea Meteorological Institute) untuk membangun Portal Asuransi Iklim Komprehensif (Comprehensive Climate Insurance Portal). Portal ini secara cerdas mengintegrasikan data cuaca nasional dengan analitik data industri asuransi guna memetakan potensi risiko katastropik secara presisi.

Tak berhenti pada pengolahan data, GIAK juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah di Korea untuk menyediakan asuransi iklim parametrik (parametric climate insurance) secara cuma-cuma bagi para pekerja konstruksi lapangan. Skema perlindungan ini dirancang untuk mengganti hilangnya upah harian pekerja akibat penghentian pekerjaan saat gelombang panas ekstrem (extreme heat wave warnings) melanda.

“Krisis iklim adalah tantangan darurat bersama yang dihadapi oleh seluruh umat manusia di bumi saat ini,” tutur Lee.

Falsafah Baju dan Sahabat: Komitmen Erat GIAK dan AAUI

Menutup paparannya, Lee menegaskan bahwa tantangan raksasa di era modern ini mustahil dipikul oleh satu negara sendirian. Dibutuhkan pertukaran pengetahuan, teknologi, dan kapasitas kolektif antarnegara mitra. Dalam konteks ini, Indonesia dipandang sebagai mitra paling strategis bagi industri asuransi Korea Selatan, mengingat posisinya sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa kuat.

Guna menggambarkan keintiman hubungan bilateral tersebut, Lee mengutip peribahasa kuno Korea yang sarat makna filosofis:

“Pakaian tampak paling indah saat masih baru, tetapi sahabat adalah yang terbaik saat ia telah lama bersama.”

“Peribahasa ini menegaskan bahwa persahabatan yang ditempa oleh perjalanan waktu adalah ikatan yang paling bernilai tinggi. Dan itulah gambaran sempurna dari relasi erat antara GIAK Korea dan AAUI Indonesia,” ungkap Lee yang langsung disambut anggukan apresiatif dari para tamu undangan.

Kemitraan resmi antara GIAK dan AAUI sendiri telah terjalin sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pertama pada tahun 2012. Komitmen itu kian dipertegas lewat pembaruan nota kesepahaman pada tahun 2024 guna memperluas kerja sama praktis antaranggota perusahaan kedua negara.

“Ke depan, GIAK akan terus berdiri di samping AAUI sebagai kawan lama yang tepercaya (trusty old friend). Kami siap berbagi keahlian, teknologi, serta wawasan demi memajukan industri asuransi umum di kedua negara,” tutup Lee penuh optimisme, sebelum mengakhiri pidatonya dengan ucapan “Terima kasih” dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Pidato Byung Rhae Lee menjadi penegas bahwa di tengah gelombang ketidakpastian dan ancaman pemanasan global, industri asuransi kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergandengan tangan menatap cakrawala baru yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid An-Nur Pamulang Permai
Pamulang Bar., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417
  • Memakmurkan masjid bukan sekadar meramaikan bangunannya, tetapi menghidupkan hati dengan ibadah, ilmu, dan kebaikan.